• Selamat Datang Di Website Bappeda Kab.Paser

images

WORKSHOP PENINGKATAN KAPASITAS APARATUR PENGELOLA SUMBER DAYA AIR PROVINSI KALIMANTAN TIMUR “ AIR BAKU & KEKERINGAN “

Samarinda 15 Oktober 2018, Kekeringan adalah suatu kondisi yang ditandai dengan ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk kehidupan, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan.

Kekeringan di Indonesia pada umumnya terjadi pada musim kemarau

Kekeringan bersifat relatif, dan dapat terjadi pada berbagai daerah dengan tipe iklim yang berbeda. Faktor terjadinya fenomena  El nino dapat  mempengaruhi tingkat kekeringan yang terjadi, akan tetapi fenomena el nino tidak selalu menyebabkan kekeringan yang parah.

Dampak yang disebabkan oleh kekeringan dapat berpengaruh terhadap berbagai sektor, maka perlu dilakukan langkah-langkah untuk menanggulangi bahaya kekeringan, salah satunya dengan cara melakukan sistem monitoring kekeringan yang dapat menghasilkan peringatan dini kekeringan (kapan mulainya, berapa lama, serta berakhirnya  fenomena kekeringan).

Memonitoring kekeringan dan mengetahui sejauh mana tingkat kekeringan yang  terjadi  di Wilayah Kalimantan Timur

Mendukung program sistem peringatan dini iklim (CEWS) dalam mendukung program ketahanan pangan di provinsi Kalimantan Timur.

Secara umum kekeringan merupakan suatu kondisi dimana terjadi kekurangan air untuk memenuhi kebutuhan (Gibbs, 1975 dalam Bayong 2002).

Kekeringan merupakan suatu fenomena kekurangan air yang  normal, biasanya terjadi secara berulang sesuai dengan iklimnya

Keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah dalam masa yang berkepanjangan (beberapa bulan hingga bertahun-tahun). Biasanya kejadian ini muncul bila suatu wilayah secara terus - menerus mengalami curah hujan di bawah rata-rata.

Kekeringan ini berhubungan dengan berkurangnya kandungan air dalam tanah (lengas tanah) sehingga tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan air bagi tanaman pada suatu periode tertentu. Kekeringan pertanian ini terjadi setelah terjadinya gejala kekeringan meteorologis. Intensitas kekeringan berdasarkan definisi pertanian adalah sebagai berikut :

Kering : apabila ¼ daun kering dimulai pada bagian ujung daun (terkena ringan s/d sedang)

Sangat kering :  apabila ¼ - 2/3 daun kering dimulai pada bagian ujung daun (terkena berat)

Amat sangat kering :  apabila seluruh  daun kering (terkena puso)

Sedangkan untuk indeks kekeringan hidrologi, telah diselenggarakan WMO/UNISDR Expert Meeting on Hydrological Drought Indices di Jenewa, Swiss pada tanggal 1-2 September 2011

Kekeringan hidrologis terjadi berhubungan dengan berkurangnya pasokan air permukaan dan air tanah. Kekeringan hidrologi diukur dari ketinggian muka air sungai, waduk, danau dan air tanah. Terdapat rentang waktu antara berkurangnya curah hujan dengan berkurangnya ketinggian muka air sungai, danau dan air tanah, sehingga kekeringan hidrologis bukan merupakan gejala awal terjadinya kekeringan.

Kekeringan hidrologi didefinisikan oleh Nalbantis et al (2008) sebagai “berkurangnya secara nyata air yang tersedia dalam berbagai bentuk siklus hidrologi di daratan”, yaitu sebagai air di sungai, air di waduk dan danau, dan air tanah.

Pengertian lain kekeringan hidrologi diberikan oleh Panu et al. (2002) mendefinisikan kekeringan hidrologi sebagai periode waktu jumlah air di sungai, danau, akuifer, dan tanah berada di bawah rata-rata.

Intensitas kekeringan berdasarkan definisi hidrologis adalah sebagai berikut :

kering : apabila debit air sungai mencapai  periode ulang aliran dibawah periode 5 tahunan

sangat kering :  apabila debit air sungai mencapai  periode ulang aliran  jauh dibawah periode 25 tahunan

Amat sangat kering :  apabila debit air sungai mencapai  periode ulang aliran amat jauh dibawah periode 50 tahunan

Kekeringan ini terjadi berhubungan dengan berkurangnya pasokan komoditi yang bernilai ekonomi dari kebutuhan normal sebagai akibat dari terjadinya kekeringan meteorologis, pertanian dan hidrologis.

Intensitas kekeringan social ekonomi dapat dilihat dari ketersediaan air minum atau air bersih.

TINDAKAN YANG PERLU DILAKUKAN

Perlu perangkat lunak untuk mengukur tingkat keparahan kekeringan dalam hal ini SPI dan Theoty of Run.

Perlu pengujian terhadap alat ukur kekeringan melalui kuatnya hubungan dengan dampaknya

Kekeringan meteorologi memberikan gambaran tingkat kekeringan secara temporal (seri tingkat kekeringan) dan spasial (peta, luasan kena bencana kekeringan)

Monitoring kekeringan perlu dilakukan agar upaya mitigasi dapat dilaksanakan


TAG

Dipost Oleh Selamet Mulyono

admin bidang Infraswil

Tinggalkan Komentar